CALO TIKET DI PELABUHAN BAJOE RESAHKAN CALON PENUMPANG

Written by platmerah. Posted in Berita Nusantara, Hukum & Kriminal

calo tiket

Published on May 13, 2013 with No Comments

platmerahonline.com | SULSEL

calo1
Sulitnya memperoleh pekerjaan, di Kabupaten Bone Bajoe mendorong sesorang untuk melakukan apa saja demi memenuhi kebutuhan ekonomi dan tuntutan hidup lainnya. Salah satunya adalah dengan menjadi calo tiket di pelabuhan. Pekerjaan yang dilakukannya dengan cara mengiming-imingi calon penumpang dengan tiket murah tetapi malah harga tiket tersebut melebihi dari harga normalnya yang sudah ditetapkan oleh pemerintah kabupaten bone. Harga tersebut tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan melalui peraturan Menteri perhubungan tentang harga tiket kendaraan.

Meskinpun telah dihimbau melalui sepanduk yang terpajang di pelabuhan yang bertuliskan jangan melaui calo, tetapi tetap saja dimanfaatkan oleh pak calo. Hal tersebut diduga akibat lemahnya fungsi pengawasan di pelabuahan. Disinyalir, praktek percaloan tersebut terjadi karena adanya kerjasama antara calo dan oknum pegawai pelabuhan. Sehingga, para calo berani pasang dada digaris depan dan berani mengabaikan aturan yang sudah ditentukan oleh pihak pemerintah Kabupaten Bone, Sulawesi selatan.

Menurut pengakuan Bahtiar, salah seorang sopir yang menjadi korban calo, kepada Plat Merah mengungkapkan kekecewaannya. “Pada saat masuk di palang pertama, mobil saya dikejar-kejar langsung ditanya, apakah saya mau menyebrang? lalu saya bilang, ia mau nyebrang. Kemudian mobil itu disuruh berhenti dan diminta SIM dan STNK. Kemudian calo tersebut menyuruh saya untuk membayarnya, nanti di dalam,”katanya.

Masih kata Bahtiar, setelah di dalam, calo tersebut kemudian menawarkarkan harga tiket penyebrangan untuk satu unit mobil Pick Up sebesar Rp.1.350.000. “Saya tidak setuju, kemudian ditawari lagi. Karena terpaksa dan melihat dia mulai merah mukanya, akhirnya saya terpaksa saya bayar sejumlah Rp. 1.250.000, “jelasnya dengan nada kecewa.

lebih jauh Bahtiar menuturkan, sebetulnya awalnya dia akan bertanya dimana tempat loket pengambilan tiket tersebut. Tetapi malah didahului oleh calo tersebut dengan memintaSIM dan STNK miliknya.
“Bukannya mengarahkan ke loket pengambilan tiket, malah memaksa saya membayar di dalam dengan harga yang sangat mahal. Apalagi saya orang baru dipelabuhan ini. Setelah menunggunggu di dalam, saya merasa heran, mau diapakan SIM dan STNK saya?” Ungkapnya dengan nada kesal. Apalagi, setelah setelah mengetahui harga tiket sebenarnya yang harus dibayar hanya Rp.1.076.000.

Hal serupa diasampaikan oleh nara sumber berinisial JM, kepada Plat Merah dirinya mengaku kecewa atas ulah yang dilakukan oleh pak calo itu. “Menurutnya, saya sebetulnya hanya menunggu untuk diarahkan keloket pengambilan tiket. Tapi yang membuat saya tidak yakin lagi, kenapa pembayarannya harus dilakukakan di depan kapal Very di dalam pelabuhan? bukan diloket pembayaran,”ungkapnya.

Setelah mendengar keluhan dari dua orang yang merasa tertipu oleh oknum (calo-red), Plat Merah melakukan konfirmasi kepada salah seorang yang diduga kuat sebagai calo di tempat tersebut yang namanya tidak mau disebutkan. “Saya lagi cari hidup, dan apa yang sedang saya lakukan itu dibagi-bagi sama teman-teman, “Paparnya.

Belakangan diketahui, menurut sumber lain mengatakan bahwa, “Mengatur calo di pelabuahan ini sudah mulai sulit karena diduga ada keterlibatan oknum yang seharusnya melarang dan memberi contoh yang baik malah sama-sama ikut menikmatinya.

Saat melalukan penelusuran lebih mendalam, Plat Merah menemukan salah seorang calo tiket (Seperti yang tampak pada gambar-red). Ia sedang melakukan aktifitasnya untuk mencari magsa yang akan dikerangkeng. Jika hal ini terus dibiarkan berlanjut, bisa dipastikan akan berakibat fatal bagi para penumpang kapal karena akan mengakibatkan kerugian. Meskipun sudah terpasang tulisan ‘jangan melalui calo ,ambil tiket pada loket yang telah disediakan’. Tulisan itu tidak merubah niat para calo untuk melakukan aktivitasnya, bahkan malah semakin menggurita di Pelabuahan Bajoe. Hal tersebut perlu kiranya di evaluasi kembali oleh pemerintah Kabupaten Bone untuk menhindari korban selanjutnya. Hingga berita ini diturunkan, diduga fungsi kontrol dan pengawasan di pelabuhan Bajoe masih Semrawut. (Zul/PM)

Artikel Lainnya

Berikan Komentar Anda:

Leave a Comment