SEPENGGAL KISAH, KIPRAH SUSILO MEMBUKA SEJARAH INHU

Written by platmerah. Posted in Berita Nusantara, Uncategorized

Berita 1.1

Published on May 12, 2013 with No Comments

Dari Sugianto, Thamsir, Rusli, Hingga Yopi
Oleh : Susilowadi,SE,SH,MH

Berita1.2platmerahonline.com | Jakarta
Secara gamblang, saya sudah lama mengetahui sejak Yopi Arianto menjadi Bupati Indragiri Hulu (Inhu), tidak pernah memandang apalagi menganggap keberadaan Ikatan Keluarga Besar Masyarakat Indragiri (IKBMI). Sebab, bisa saja Yopi menilai IKBMI adalah produk era kepemimpinan Raja Thamsir Rachman ketika menjabat sebagai Bupati Inhu. Yopi memang kelihatan baik, karena setiap bertemu selalu bersahaja seperti biasa. Namun di belakang tetap menganggap kalau Susilo merupakan seterunya.

Sebelum Yopi Arianto lahir, kedekatan dengan sosok (alm) H. Sugianto sudah sangat lama terjalin. Kala itu sosok almarhum merupakan tokoh muda yang sangat saya hormati. Karena sama-sama terlahir bertetangga, membuat hubungan batin begitu berakar dan sulit terlepaskan. Selesai sekolah di SMA Negeri 1 Rengat pada tahun 1982, ‘perpisahan’ pun tak terelakkan. Dalam isak tangis bersama almarhum, beliau mengiringi perjalanan saya merantau ke Ibukota Jakarta.

Lalu, pada tahun 2000, setelah sekian lama ‘putus’ hubungan dengan (alm) H Sugianto, saya mendapatkan berita kalau beliau mencari saya. Ketika bertemu, terungkaplah dalam pertemuan kala itu terjadi perseteruan antara almarhum dengan Raja Thamsir Rachman. Almarhum sampai berkeluh kesah karena merasa dizolimi oleh Thamsir Rachman. Bahkan, dikatakannya saat itu, teman-temannya sendiri juga telah ‘meninggalkannya’ satu persatu. Curahan hati almarhum tentu saja membuat saya miris dan terpancing untuk membantu dengan segala kemampuan yang ada. Mulailah saya masuk ke ranah pemerintahan Thamsir Rachman kala itu, untuk melakukan perlawanan. Dimulai dengan mengkritisi ‘Buku Sejarah Indragiri’ buatan Isjoni dan Prof. Suwardi, tentang pembelokkan fakta sejarah peristiwa 5 Januari 1949. Sementara almarhum masih menjabat sebagai Ketua DPRD Inhu.

berita1.3Bagaimana saya membantu almarhum sepertinya masih banyak saksi hidup yang mengetahui secara detil. Baik bantuan moral maupun moril saya ikut membela kepentingan almarhum. Tapi, tentu saja saat itu saya masih terbilang lugu. Malah, saya boleh dibilang tidak mengerti politik. Sekarang saya baru menyadari, tidak ada pertemanan dan lawan yang abadi. Orang-orang politik tidak ubahnya saling makan dan saling tindas sejalan dengan kepentingan masing-masing.

Tak cuma itu, perjalanan politik almarhum pun terus saya ikuti hingga proses Pilgubri di tahun 2003 silam. Almarhum meyakinkan saya untuk membantu HM Rusli Zainal agar ‘duduk’ menjadi Gubernur Riau. Saya masih ingat, pertemuan pertama kali antara saya, almarhum, dan Rusli Zainal di Hotel Grand Hyatt. Pertemuan itu juga disaksikan oleh Indra Mukhlis Adnan, jauh sebelum Indra menjadi bupati di Indragiri Hilir (Inhil).

Pertemuan selanjutnya di kantor Rusli Zainal di Kompleks Pertokoan Duta Merlin Jakarta, antara saya, almarhum dan Rusli Zainal. Saat itu kami membicarakan bagaimana mengatur pertemuan dengan tokoh PDI Perjuangan Sutardjo Suryoguritno atau yang dikenal dengan sebutan Mbah Tardjo. Disamping juga mengatur rencana untuk bertemu dengan Mr. TW. Setelah itu, dua hari menjelang pemilihan Gubernur Riau, saya membuat apel puluhan ribu anggota Laskar Melayu yang membanjiri jalanan di Kota Pekanbaru.

Perjalanan politik (alm) Sugianto terus saya ikuti. Sampai akhirnya pada tahun 2006 persahabatan ini dilumuri dengan kebohongan. Kata demi kata dibolak-balik. Persahabatan yang tulus antara saya dan almarhum musnah. Ironisnya, perpecahan itu justru datang dari Yopi Arianto sebagai biang kerok. Yopi melakukan pertemuan di rumah Ncik Aprizal, yang mantan Kabag Keuangan Pemkab Inhu disaksikan Syamsurizal, mantan anggota DPRD Inhu. Saya disebutnya merongrong dan menghabiskan harta (alm) Sugianto. Hal itu tentu saja membuat saya marah dan terjadilah perseteruan yang tak terhindarkan dengan almarhum.

berita1.4Tanpa diduga, berkat jasa dan perjuangan besar Ali Fahmi, juga demi kelangsungan pembangunan serta berjalannya roda pemerintahan di Inhu, Raja Thamsir Rachman selaku bupati waktu itu, dengan jiwa besar dan terbuka merangkul semua pihak yang berseberangan dengan dirinya. Bahkan, saya secara khusus di undang beliau untuk bertemu di rumahnya di Pekanbaru. Dengan tulus, ia mengakui tentang data sejarah Indragiri yang saya berikan dokumen-dokumen pendukungnya. Sosok (alm) Mandor Rasiman semasa hidupnya mengetahui hal tersebut dan pertemuan ini disaksikan salah satunya oleh Prof. Dr. Suwardi.

Dalam pertemuan itu, tercapai kesepakatan, dimana masing-masing pihak bisa menerima dan saling menghormati. Kemudian pertemuan demi pertemuan pun berlanjut. Sampai akhirnya, berdasarkan Surat Keputusan Bupati Indragiri Hulu No. 049/SK-BUP INHU/PLT IKBMI/02/05/2006, tanggal 05 November 2006, Tentang Pelantikkan/Pengukuhan Pengurus IKBMI. Dari proses perjalanan inilah IKBMI mendapat hibah sebidang tanah seluas 385 M2 di Jalan Raya Pondok Gede, Jakarta Timur.

Saya bersama Bupati Thamsir saat itu melakukan kunjungan ke Replika Istana Kerajaan Indragiri dengan pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Inhu. Malah, beliau meminta agar foto (alm) Mandor Rasiman di pajang didalam ruang istana tersebut sebagai simbol sejarah kebersamaan sejak masa silam. Oleh karena itu pula, konsep lahirnya IKBMI adalah Konsep Kebersamaan dengan LAM Inhu.

Seiring perjalanan waktu, kini Yopi Arianto terpilih sebagai Bupati Indragiri Hulu. Satu minggu setelah Yopi dilantik, kami bertemu dalam acara buka puasa bersama yang dilaksanakan Persatuan Masyarakat Riau Jakarta (PMRJ) di Taman Mini Indonesia Inda (TMII). Dipertemuan tanpa sengaja itu, kami mengulas berbagai program demi kemajuan IKBMI di Jakarta. Bahkan, secara langsung Yopi memberikan masukan agar IKBMI sesegera mungkin mengajukan anggaran biaya pembangunan kantor IKBMI sekaligus menjadi Mess Pemkab Inhu.

Berita 1.1Bukan itu saja, Yopi juga meminta IKBMI mengajukan program kerja tahunan dan langsung diberikan kepadanya. Tentu bagi saya hal ini merupakan suatu kehormatan. Apalagi yang berbicara adalah seorang kepala daerah. Saya pun dengan sengaja kembali ke Rengat. Selanjutnya, saya kembali melakukan pertemuan dengan Bupati Yopi beserta Ketua DPRD Inhu kala itu, H Marpoli. Pertemuan sekaligus penyerahan program kerja IKBMI ini justru dilakukan diruang kerja H Marpoli.

Oleh Yopi, program-program yang telah diberikan kepadanya diserahkan langsung ke Arif Fadillah yang saat ini menjabat Kadispenda. Dan, 3 tahun berlalu sudah. Ternyata apa yang disampaikan Bupati Inhu itu tidak satu pun yang direalisasikannya. Janji seribu janji yang dilontarkan Yopi waktu itu sampai saat ini benar-benar hanya tinggal janji…*

Susilowadi SE SH MH, adalah cucu kandung dari (alm) Mandor Rasiman, dulu seorang anak muda yang melakukan pemberontakan terhadap Belanda dikampungnya,di Tuban Jawa Timur. Mandor Rasiman kemudian ditangkap dan ditawan Belanda serta dibuang ke Aceh sampai berakhir di Sawahlunto. Ia dibebaskan tahun 1886, dan masuk ke Kota Rengat pada tahun 1887. Rasiman dikenal telah membuka hutan Alas (Babat alas) Rawajadi bersama Datuk Sarimin, ia juga bersahabat dan menjadi kerabat Kesultanan Kerajaan Indragiri. Rasiman merupakan salah satu penasehat Sultan Isa Ayahanda Sultan Mahmud, serta pendiri pertama kali Serikat Islam di Rengat. Mandor Rasiman meninggal akibat pembantaian pada Peristiwa Agresi Belanda di Kota Rengat, 5 Januari 1949 lampau. (Dari berbagai sumber/ BUDI DARMA-PM).

Artikel Lainnya

Berikan Komentar Anda:

Leave a Comment