TINGGALKAN BOGOR, JADI GELANDANGAN DI INHU

Written by platmerah. Posted in Berita Nusantara

miskin

Published on May 08, 2013 with No Comments

Kemiskinan-riau

platmerahonline.com | INHU – Riau

Selama dua belas tahun datang ke Inhu sebagai perantau, Sukur (45) bekerja serabutan di pasar tradisional Rengat. Selama itu pula dia bertempat tinggal tidak menetap di Indragiri Hulu (Inhu), khususnya Kota Rengat dan sekitarnya.

Sukur yang mengaku warga pendatang asal Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat ini pertama kali bekerja di Inhu sebagai buruh bangunan, kuli angkut di pasar dan pekerjaan buruh kasar lainnya yang penting baginya pekerjaan itu halal, ungkapnya, polos.

Dengan suara yang sedikit kurang jelas dan bahasa yang lebih kental dengan bahasa Sunda, bahasa daerah asalnya, dirinya mengaku belum punya anak istri. Sedangkan sanak keluarganya di kampung halamannya sampai saat ini tidak mengetahui dimana keberadaannya.

“Aku disini sudah belasan tahun pak wartawan. Kalau tidak salah sekira dua belasan tahun. Kalau aku tidur di gubuk ini selama tujuh bulan,” kata Sukur, dengan suara yang hampir kurang jelas terdengar, saat ditemui di gubuk deritanya, yang bisa dikategorikan lebih parah dari kandang ayam. Apalagi, tiang gubuk yang dibuat oleh Sukur ini hanya terbuat dari ranting-rating pohon yang berasal dari semak belukar yang lokasinya berada di pesisir Desa Kampung Pulau, Kecamatan Rengat Kab.Inhu atau kawasan DAS Indragiri. Sementara dindingnya dan atapnya hanya dari plastik bekas yang dia pungut dari sembarang tempat, layaknya gembel atau gelandangan.

Selain itu alas tidurnya hanya terbuat dari kain usang seadanya. Lebih parahnya lagi, alat memasak air bekas kaleng margarine, dengan bahan bakar dari ranting-ranting kering.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsos Nakertrans) Inhu, Kuwat Widiyanto melalui Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Anhar melalui teleponnya, Selasa (7/5) menegaskan, sampai kini pihaknya tidak mengetahui keberadaan Sukur disana. “Terima kasih atas informasinya. Besok saya akan mengecek kesana,” kata Anhar.

Selanjutnya kata Anhar, untuk penanganan awal, Sukur didata terlebih dahulu oleh pihak kepolisian, dan selanjutnya direkomendasikan oleh instansi terkait. Apakah yang bersangkutan akan dipulangkan ke kampung asal, itu tergantung dengan yang bersangkutan. “Kita tanya dulu apakah dia mau atau tidak dipulangkan. Anggaran yang akan kita berikan sebagai biaya ongkos pulang sebesar Rp.250 ribu,” ujar Anhar.

Anhar mengaku kalau dana kepulangan Sukur itu tidak cukup untuk ongkos dengan makannya di jalan. Namun, dia akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial Jambi, Palembang serta Lampung. Berdasarkan surat rekomendasi tersebut, maka Sukur akan mendapat bantuan serupa hingga tiba di kampong halamannya,”kata dia. (FERDINAN EDDY TAYU/ MUNIR)

Artikel Lainnya

Berikan Komentar Anda:

Leave a Comment